Sendirian? Siapa Takut?

Saya tahu kalau “ada temennya” itu jauh lebih asyik daripada sendirian. Menurut saya juga begitu. Bayangin datang ke suatu acara sendiri; seruangan gak ada yang kenal, datangnya nggak dijemput, pulangnya nggak diantar. Mending nggak usah ada di sana sekalian ya kan? Dulu banget, waktu saya masih SMU dan lagi imut2nya (menurut nyokap doang sih), nggak ada anak yang berani melintasi lapangan di tengah sekolah sendirian. Jadi kalo mau ke toilet yang letaknya di seberang lapangan itu kita harus minta ditemani. Pasalnya, nyebrang sendirian akan kelihatan ganjil. Menarik perhatian. Lalu anak-anak urakan yang cuman berani keroyokan itu akan mulai mensuit-suit dan meneriaki siapapun yang nyebrang lapangan rumput itu sendiri. Masalahnya, gimana kalo kita betul-betul sakit perut tak tertahankan dan temen kita semuanya lagi ayik-asyiknya makan soto tauco sambel kecap? Masa iya kita tungguin mereka sampai selesai atau maksa mereka nyebrangi lapangan sama-sama dan nungguin kita di depan WC?

Jadi benar, saya pernah diteriakin habis gara-gara lari melintasi lapangan sendirian saat lagi mencret. Pertamanya saya malu berat, tapi sesudah itu saya malah menikmatinya. Sebagai orang yang cupu banget di bidang olah raga, saat itu saya bisa merasakan gimana rasanya ‘disoraki’ di tengah lapangan. Saya mulai memberi arti baru pada istilah “bintang lapangan”.

Kadang sendirian itu perlu. Dengan berani sendiri artinya kita tidak membebani orang terus dengan minta ditemani. Berani sendirian juga membuat kita memiliki kebebasan. Kita nggak harus nungguin orang dan nggak harus ngikutin keinginan orang lain yang belum tentu sama dengan kita.

Kedengarannya memang sepele, tapi saya merasakan bahwa kadang kita lebih banyak kompromi dengan keadaan hanya supaya tidak sendirian. Daftar SMU di tempat yang banyak didaftari sama anak-anak se-geng kita waktu SMP. Cari pekerjaan dimana ada teman sekampung kita yang ada di situ. Sekolah di suatu kota dimana kita punya sodara. Datang ke kondangan cuman kalau ada yang njemput. Pipis cuman kalo ada yang  nemenin ke toilet. Pokoknya seringlah kita batal melakukan sesuatu karena nggak ada temannya.

Sebagai lajang saya sering ‘terpaksa’ harus sendirian. Dateng ke kondangan sendiri, makan malam sendiri, nonton pertunjukan sendiri, ke gereja sendiri, servis motor sendiri, ngegym sendiri, angkat galon akua sendiri, bobok sendiri, mandi sendiri dan cebok sendiri (ya iyalah. contohnya njijiki banget sih). Kedengarannya kayak menyedihkan yah, tapi itu cuman karena saya menyebutkan yang pas lagi sendirian-nya saja. Kenyataannya saya lebih sering bareng teman atau teman-teman. Intinya sih, saya suka ditemenin tapi nggak tergantung sama mereka. Kalau mereka ada waktu dan sama-sama mau ngelakuin hal yang sama, kita akan ngerjain sama-sama. Kalau tidak, bukan masalah buat saya.

Harus saya akui, sendirian kadang bikin kita ‘mati gaya’. Aneh saja, kalau kita ada di bioskop dan nunggu sendiri, duduk sendiri, makan sendiri dan keluar parkiran sendiri (emangnya nggak ada tukang parkir ya?). Bahkan ketika kita sendiri sudah merasa nyaman, tetap saja ada orang yang memandang kita dengan aneh. Kalau saya datang ke rumah makan/warung/restoran sendirian, saya selalu ditanya, “Bungkus ya Mbak?” karena nggak lazim orang makan di luar sendirian, padahal seringnya saya makan di luar ketika saya sudah laper banget lagian sekalian hemat nyuci piring sendok gelas. Hebatnya lagi kalau ketemu orang yang saya kenal, mereka selalu bilang, “Kok sendirian?” bahkan ada yang nimbrung, “Kaya orang ilang aja” seolah-olah sendiri itu haram hukumnya. Saya nggak sebel kok, habis saya tahu lebih baik jadi kaya orang ilang daripada maksa adek cowok saya nemenin untuk sekedar beli bra dan alat cukur bulu ketek.

Saya pergi sendiri bukan karena saya nggak punya temen/sodara/keluarga/pacar yang mau nemenin. Saya berani sendiri karena saya mengerti tidak semua orang punya kepentingan yang sama. Saya nggak takut sendiri saja karena saya paham bahwa orang lain nggak selalu ada waktu khusus buat nemeni saya. Kadang, saya sendiri karena saya pingin sendiri. Supaya saya nggak keburu-buru karena ditungguin, supaya saya nggak kuatir apakah teman saya bosan gara2 saya atau enggak, supaya saya bisa bebas mengambil keputusan tanpa minta persetujuan orang lain. Sendiri membuat saya tidak harus menunggu. Dengan berani sendiri saya bisa pergi ke tempat-tempat yang mungkin belum pernah dikunjungi teman-teman saya. Dengan berani sendiri saya menemukan teman-teman baru. Dengan berani sendiri saya punya petualangan baru dan cerita baru yang mungkin tidak akan pernah ada kalau saya selalu menempel pada orang lain. Dengan sendiri saya jadi tahu siapa saya ketika nggak ada orang lain. Sendiri itu perlu sehingga kita nggak cuman ikut-ikutan waktu bersama orang-orang lain.

Sama seperti menyebrangi lapangan waktu SMU, ketika saya sendirian mulanya saya digoda, dicemooh atau dianggap nyleneh. Tapi seiring dengan waktu, semua itu akan berubah menjadi rasa menghargai. Pada akhirnya mereka tahu bahwa orang yang sendiri punya sesuatu yang tidak dipunyai segerombolan orang yang cuma berani kalo rame-rame. Ini tidak bisa ditutup-tutupi.

Berani sendiri memberi kita lebih banyak pilihan. Maksudnya, kita bisa memilih yang lain dari orang lain pada umumnya. Dalam pekerjaan, dalam pendidikan, dalam gaya hidup, dalam cara pikir dan dalam percintaan. Siapa juga yang tertarik pada orang yang “suwargo nunut neroko katut”? Jadi wahai temen-temen saya yang lagi bingung pingin ini itu tapi kok gak ada temennya, cobalah lakukan sendiri. Kalo menurut pengalaman saya sih hasilnya kita akan puas dan bangga pada diri sendiri, atau minimal nggak mencret di warung soto tauco.

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | 3 Komentar

Melajang dengan Asyik

Siapa sih yang suka jomblo? Band Wali aja teriak-teriak pingin kawin. Siapa juga yang mau malam minggu ngumpet di kamar, mlototin laptop sembari makan kuaci sambil ngupil (satu-satu lah ya, nggak sekaligus. Kecuali bagi yang bisa ngupil pake jempol kaki). Orang yang bilang ‘asyik melajang’ dianggap lagi menghibur diri. Benarkah?

Kata ‘melajang’ kadang disalahartikan. Orang yang melajang artinya bukan orang yang pantang berpasangan, tapi yang belum berpasangan. Alasannya bisa bermacam-macam, tapi yang jelas bukan untuk jadi jomblo kesepian ngiler di pojokan. Lalu kenapa milih sendirian? Karena pilihan kita sebenernya bukan antara : lajang atau punya pasangan. Karena 90% orang menikah dan kita juga bakal menikah nantinya. Pilihan kita saat ini adalah antara : lajang yang asyik atau lajang yang merana. Karena, seperti kata Phil Collins, “We can’t hurry love” yang artinya tiada Tuhan selain Allah. (Hayoh siapa yang menang jayusnya lawan akyuh?). Kalau memang ada seseorang yang pas dan orang ini juga berpikir yang sama dan waktunya tepat ya kenapa tidak? Masalahnya tidak kesemua itu selalu ada pada waktu yang sama. Kalau dipaksakan, tidak baik jadinya. Selagi menunggu orang/saat yang tepat, apa salahnya kita menikmati kesempatan yang ada?

Orang umumnya tergesa-gesa. Ibarat kursi di bioskop pas tayang premiere (ato pas antri sembako/BBM), siapa cepat dia dapat, siapa terlambat dia tobat. Tapi sebetulnya, pasangan tidak bagaikan sembako. Pasangan lebih seperti musim yang datang tak dijemput pulang tak diantar. Dia punya waktunya sendiri untuk hadir, dan kalau tidak siap kita justru kewalahan dan bahkan tidak bisa menyambutnya. Seperti persediaan makanan di lumbung waktu musim dingin datang dan benih yang ditanam waktu musim panas datang. Atau minimal karung waktu musim duren datang.

Kenapa kita tidak boleh membandingkan hidup melajang dengan yang berpasangan? Karena kolor tetangga selalu lebih hijau. Kita selalu mengingini yang tidak kita miliki. Padahal semua ada konsekuensinya. Semua juga ada sisi baiknya, asal kita jangan berpikir, “andai saja kita bukan begini…” Berpikir bahwa keadaan yang lain lebih baik merampas kebahagiaan yang ada sekarang. Kita tidak akan pernah puas jika kita membandingkan. Lagipula, yang kita inginkan belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Maksudnya, belum tentu kita akan betul2 bahagia dan tidak ada masalah kalau kita sekarang juga punya pasangan.

Inilah faktanya: kalau kita menginginkan pasangan dengan desperate, kita jadi berharap terlalu banyak pada pasangan ini. Karena kita berpikir bahwa dengan mendapatkan dia kita akan bahagia, kita jadi berharap dia yang akan membahagiakan kita. Harapan yang tinggi ini rentan terhadap kekecewaan. Lagipula, hal ini tidak adil juga bagi pasangan, yang baru saja masuk ke dalam kehidupan kita. Yang lebih baik adalah jika kita merasa puas dan bahagia waktu kita sendiri, sehingga waktu kita berpasangan, kita bisa membuat pasangan kita juga hepi. Istilahnya kita nggak perlu di-entertain. Bukannya nggak perlu pasangan, tapi tidak needy. Lajang ataupun tidak, kita bisa mengurus diri sendiri dan berguna buat orang lain.

Lajang bukan lawan dari berpasangan. Lajang hanyalah kondisi sebelum berpasangan. Kondisi ini penting karena kalau kita tidak tahu bagaimana menjadi lajang, mana mungkin kita tahu bagaimana kita menjadi pasangan? Seseorang harus tahu tujuan dan identitasnya sebelum dia berkolaborasi dengan orang lain. Dengan demikian hubungan ini akan sehat dan seimbang (kaya 4 sehat 5 sempurna aja) dan bukannya timpang atau berat sebelah. Intinya sih, kita tidak bisa jadi pasangan yang tepat kalau kita belum jadi pribadi yang baik. Lajang yang labil tidak bisa membentuk pasangan yang stabil. Menjadi lajang yang oke penting supaya kita bisa jadi patner yang baik.

Keinginan tidak sama dengan kesiapan. Kadang kita ingin secepatnya punya pasangan karena alasan berikut:
1. baru putus dan depresi, kalau punya pacar lagi pasti terhibur
2. baru putus dan patah hati berat karena mantan udah pacaran lagi
3. ditinggal nikah
4. diburu-buru orang tua, adek, guru, tetangga, opa, teteh, om, tante dan kakak ipar temen misan sepupu
5. males makan, kerja, ke tempat ibadah, jalan atau nonton sendirian
6. bosan dan butuh hiburan
7. bingung mo ngapain lagi, dsb.
Kita tidak punya pasangan karena kita butuh. Berpasangan adalah pilihan yang sadar dan sukarela, bukan kepepet atau daripada enggak ada. Mencintai berarti memberi. Inilah sebabnya kesiapan hati kita sangat penting untuk memulai suatu hubungan. Beri waktu pada diri sendiri untuk pulih dan jadi pribadi yang utuh sehingga kita tidak membawa ‘beban’ kita ke hubungan yang baru.

Melajang itu asyik ketika kita percaya bahwa kita bisa berbahagia, sekarang. Bukannya menghibur diri, justru bersikap realistis. Kenapa menggantungkan harapan kita pada masa yang akan datang, yang bakal ada masalahnya sendiri? Sekarang para lajang memiliki keinginan punya pasangan, tapi bukannya itu satu2nya masalah yang ada sekarang? Memiliki pasangan bukan jawaban dari segala masalah. Mungkin masalah diburu-buru, dicerewetin dan dianggap aneh akan selesai, tapi akan ada masalah lain. Bahagia sebagai lajang bukan dibandingkan dengan berpasangan tapi karena kita bahagia apapun masalah dan keadaannya, tapi kita tidak bikin masalah dengan terus-menerus ngiri sama rumput tetangga.

Ini bukanlah bujukan untuk melajang. Tentu saja punya pasangan itu enak, tapi bisa jadi bencana kalau dipaksakan. Rahasia kecil buat para lajang adalah bahwa hidup selalu penuh kejutan. Membiarkan hal-hal yang menarik terlewatkan hanya karena kita lajang sungguh disayangkan. Bergaullah, lihatlah, alamilah, cobalah, lakukanlah. Nikmati yang terbaik selagi tetap menjaga harapan. Melajang itu asyik, sama seperti berpasangan.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | 6 Komentar

Perjodohan: Ketinggalan Jaman atau Memang Diperlukan?

“For all those people who said there’s other fish in the sea, here’s a question… What if you’re stuck in a pond?”

Langsung saja: apakah anda setuju pada perjodohan atau tidak setuju? Kata pepatah lama: asam di gunung, garam di laut, bertemunya di belanga. Saya yakin mereka bicara tentang perjodohan (bukan cara masak sayur asem deh kayaknya). Jaman doeloe? Jadi ketinggalan jaman? Nanti dulu. Jaman kuda gigit besi perjodohan diperlukan karena jarak yang susah ditempuh (masa mau ngapel harus naik kuda dulu 3 hari 3 malam?), wanita yang selalu tinggal di rumah (ingat Ibu kita Kartini yang dipingit? Atau Rara Mendut? Atau Malin Kundang? *eh ini bukan ya*) dan tentu saja karna belom ada facebook/blackberry messenger. Jaman sekarang, perjodohan masih dilakukan justru akibat tidak sempat bersosialisasi! Para lajang di New York melakukan pesta lajang yang disebut ‘eye-gazing party’ dimana para tamunya duduk berhadapan dengan lawan jenisnya selama 1 menit, saling melihat hanya untuk merasakan apakah diantara mereka ada ‘chemistry’.

Ini belom termasuk iklan baris dan website matchmaking. “P/26th mencari W. Lajang. Menarik. Pinter masak, bersih2rumah dan nyuci. Pembantu soalnya lagi pulkam,” “W/27 th, lajang gemar dangdut. Cari P yang jenggotnya mirip Rhoma,” “W/55 th/janda. Mencari P/sebaya/duda. Dulu suami saya keren, sexy dan foto model. Sekarang yang penting tidak encokan, tidak kentut sembarangan dan tidak alergi pampers.” “P/30 th. Bankir. Mencari akuntan yang bisa diajak merger.” “P/29 th. Maniak bola dan dugem cari W/sebaya yang rumahan dan bisa main catur/PS2” “P/25th/sarjana komputer. Cari W/dibawah 20th yang bootingnya gak lama” “W/25 th suka bepergian. Mendamba P/dibawah 40th yang punya pesawat jet pribadi”

Intinya, perjdohan hanyalah memperluas lahan pencarian. Kalau kerjaan kita itu-itu saja, berkutat dari jam 9 sampai jam 5, pulang, nonton TV dan tidur, kapan ketemu teman kencannya? Jadi networking alias dikenalin ama temen, tante, tetangga, atau ipar misan sepupu kedua dari paman menantu adek ya bisa dicoba lah. Apa salahnya menambah ‘jaringan’? Mungkin dengan begini, kita bisa ‘mengaudisi kontestan’ lebih banyak dan mendapat yang terbaik.

Tapi, apa efek sampingnya? Ada teman saya sebut saja Dara (30) yang selama setahun belakangan dikenal-kenalin Emaknya ke pria-pria lajang yang diketahuinya lewat koneksi sebagai ibu rumah tangga yang ekstensif. Bukannya cepet dapet pacar, Dara justru jadi ketemu dengan cowok-cowok super garing dan nggak nyambung berat. Karena pria-pria ini, menurut Dara, bersikap ‘pasti cewek ini mau karena Emaknya aja sudah desperate gitu’ Dengan kata lain, sistem ini bikin cewek jadi dilabeli ‘nggak laku dan hampir kedaluwarsa. Diskon 70%! Cuci gudang!’ Nggak separah itu sih, tapi entah secara sadar atau tidak, si cowok terkesan PeDeKaTenya terburu-buru, dan kalau salah satu tidak tertarik, si cowok berpikir “Dia aneh sih. Pantesan selama ini belom dapet pasangan,” Ada juga efek samping yang lebih ringan tapi pasti terjadi dalam setiap perjodohan: kecanggungan. Karena tidak bertemu dalam situasi normal (kerja, sekolah, klub kebugaran, di tempat ibadah, dsb) dua orang yang dijodohkan atau dikenalkan akan bersikap kaku, berlebihan atau setengah mati salah tingkah kalo ternyata yang dikenalin ‘berprospek’. Kita jadi ekstra hati-hati dalam bersikap dan cenderung tidak wajar, nggak apa adanya. Kita juga akan menilai orang tersebut dengan standar kita sendiri.

Ngomong-ngomong soal penilaian, perjodohan juga ajang penjurian yang tidak adil. Jujur saja deh, kalo kita sudah naksir berat sama seseorang, mau dia garuk-garuk ketek atau ngupil pake jempol kaki ya semuanya tetap mempesona. Betul tidak? Kita sama sekali tidak bisa objektif dalam hal cinta. Masalah dalam perjodohan adalah: kita menilai potensi untuk menjadi pasangan dari orang yang tidak kita kenal. Seperti pepatah (lagi) bilang, tak kenal maka tak sayang. Maka kecenderungan untuk menilai seorang yang dikenalkan adalah menilai dia dari label-labelnya. Melihat orangnya. Sialnya, kalau orang ini sebenernya baik dan keren tapi kebetulan lagi lupa beli pisau cukur atao deodoran, ato PAMnya lagi macet sehingga gak bisa mandi or PLN lagi mati listrik sehingga pake bajunya terbalik ato nggak matching blas, rusaklah susu sebelanga! Kalo kesan pertama sudah tidak begitu menggoda, dia salah belahan nyisir rambut aja bisa jadi masalah.

‘Dikenalkan’ memang nggak ada salahnya. Sama seperti pekerjaan dan semua kesempatan hoki-hokian yang lain, terkadang ‘koneksi dan kenalan’ akan sangat amat membantu. Lagipula, kita tidak pernah tahu dimana bakal ketemu jodoh, lewat orang lain itu pun namanya juga takdir. Dunia juga makin sempit sejak ditemukannya internet sebagai keajaiban dunia ke-8. Apa salahnya kencan buta lewat myspace.com? Tapi dari permukaan lain mata uang yang sama, kita ingin cari pasangan dari orang yang kita kenal kesehariannya, yang kita tahu watak baik-buruknya, kebiasaannya, kesukaannya, dirinya yang sebenarnya. Yang bukan cuma display saat kita ‘dijodohkan’. Apa pendapat teman-teman? Apakah memacari sahabat adalah skenario terbaik untuk mencari jodoh? Bagaimana kalau pergaulan kita sendiri terbatas? Memang banyak ikan lain (bahkan paus dan cumi) di Samudera Atlantik, tapi bagaimana kalau kita terjebak dalam aquarium hias?

Dipublikasi di seek love | 2 Komentar

Apa kabar Dunia?

Halo. Saya Ria: pecinta duren dan sambel goreng petai, hobi berat tidur siang, anti peperangan dan kebetulan blogger amatiran yang lagi bingung mau ganti tagline “just another wordpress.com site” (What an amazingly honest tagline!). Saya juga suka jalan-jalan di samping kerja sambilan jadi pegawai kantoran. Saya juga pendengar yang baik yang dengan penuh semangat tanpa menyerah maju terus pantang mundur mencari cinta sejati yang entah bagaimana saya hakul yakin percaya kalau itu ada. Untuk mendedikasikan kepercayaan saya itu, saya bikin blog ini. Saya sering mendengar curhatan teman-teman disamping secara pribadi juga malang-melintang di dunia persilatan, tema percintaan tidak ada matinya! Dari yang ABeGeh sampai janda beranak lima, kita semua masih terus belajar untuk mencintai. Hubungan personal antar manusia memang susah diterjemahkan. Manusia memang makhluk yang kompleks (halah, sok berfilosofi). Tapi kata orang manusia tidak sempurna kalau belum pernah jatuh cinta/dicintai/mencintai. Belakangan saya pernah tanya ke segerombolan anak muda umur 18-35 tahun, “Siapa yang belum pernah patah hati tunjuk jari!” Tidak seorangpun mengangkat keteknya! Jadi mari membahas tentang hubungan, karena hal ini sangat manusiawi (hey, bahkan terminator juga bisa jatuh cinta!)

Kalau saya ketemu Cupid saya akan bilang, “Halo malaikat balita yang pampersnya kegedean, jangan asal manah! Kayaknya kita perlu ngomong tentang sasaranmu buat saya,” Yakin deh, dia pasti punya perusahaan panah.

Karena itu, mari berbagi. Blog ini bukan hanya pengalaman saya atau masalah saya sendiri saja, tapi isu percintaan yang mungkin sudah sering kita dengar dan alami! Kata buku “Men are from Mars and Aliens are from Uranus” para wanita paling pinter bicara tentang perasaan mereka. Kalo begitu kenapa kita tidak duduk, mendengarkan dan berbicara? (harusnya INI yang jadi tagline! *huh*)

Dipublikasi di seek love, Uncategorized | 3 Komentar